NASIONAL
Istimewa
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Kepedulian terhadap Palestina dinilai tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan keprihatinan. Upaya kemanusiaan bagi masyarakat Gaza, Palestina, juga membutuhkan bantuan nyata, pemulihan, dan dukungan berkelanjutan hingga kondisi masyarakat terdampak konflik kembali pulih.
Hal tersebut menjadi perhatian Dr. KH. Marsudi Syuhud, M.M., yang mendorong penguatan program kemanusiaan untuk warga Gaza melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
“Kepedulian terhadap Palestina tak cukup berhenti pada ungkapan keprihatinan,” tegas Marsudi.
Menurut Marsudi, gencatan senjata tidak semestinya dipandang sebagai akhir dari persoalan kemanusiaan di Gaza. Sebaliknya, momentum tersebut perlu diikuti dengan langkah pemulihan, penyaluran bantuan, serta dukungan jangka panjang bagi masyarakat yang terdampak konflik.
Upaya tersebut mencakup kebutuhan dasar masyarakat, pemulihan kehidupan sosial, serta dukungan terhadap proses rekonstruksi setelah konflik.
Kolaborasi antara tokoh keagamaan, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam memastikan bantuan dapat disalurkan secara terkoordinasi dan tepat sasaran.
Dorong Peran NU dalam Isu Kemanusiaan Global
Keterlibatan Marsudi dalam isu Palestina juga dikaitkan dengan gagasan memperkuat peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam agenda kemanusiaan internasional.
NU dengan jaringan pesantren, lembaga sosial, serta basis masyarakat yang luas dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi dalam berbagai agenda kemanusiaan, termasuk membantu masyarakat yang terdampak konflik di berbagai kawasan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Islam rahmatan lil 'alamin yang menempatkan nilai kemanusiaan, perdamaian, persaudaraan, dan kemaslahatan sebagai bagian penting dalam kehidupan umat.
Marsudi juga selama ini membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan dalam berbagai forum internasional. Kehadiran tokoh agama Indonesia dalam forum global dinilai dapat memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia sekaligus memperkenalkan pengalaman Islam moderat Indonesia dalam membangun perdamaian.
Dikaitkan dengan Muktamar NU ke-35
Kiprah Marsudi dalam isu kemanusiaan dan hubungan internasional turut menjadi bahan pembicaraan menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Sejumlah pihak menilai pengalaman dalam membangun jejaring lintas lembaga dan membawa isu kemanusiaan ke tingkat internasional dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat figur kepemimpinan NU ke depan.
Pendukung Marsudi menilai terdapat setidaknya tiga aspek yang menjadi kekuatan, yakni kemampuan menerjemahkan kepedulian menjadi program konkret, jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan, serta pengalaman membawa isu perdamaian dan kemanusiaan dalam forum internasional.
Namun, dinamika kepemimpinan NU tetap menjadi bagian dari proses organisasi yang akan ditentukan melalui mekanisme Muktamar sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari Pesantren ke Panggung Dunia
Isu Palestina menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan kemanusiaan global dapat menjadi ruang kontribusi bagi organisasi dan tokoh keagamaan Indonesia.
Bagi Marsudi, dukungan terhadap Palestina tidak berhenti ketika senjata berhenti digunakan. Bantuan kemanusiaan, pemulihan, dan pembangunan kembali kehidupan masyarakat Gaza membutuhkan perhatian jangka panjang.
Gagasan tersebut sekaligus menempatkan peran ulama tidak hanya sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun solusi atas persoalan kemanusiaan global.
Dengan pendekatan tersebut, kontribusi NU diharapkan tidak hanya dirasakan di tingkat nasional, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam agenda perdamaian, kemanusiaan, dan keadilan di tingkat internasional.***