NASIONAL
Istimewa
Sleman-Mediaindonesianews.com: Kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang terus meningkat seiring berkembangnya pembangunan nasional dan kompleksitas pengelolaan lahan di Indonesia. Menjawab kebutuhan tersebut, Politeknik Agraria STPN membuka peluang bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan kedinasan yang berfokus pada pengelolaan pertanahan dan tata ruang.
Ketua Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad, mengatakan kampus di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional tersebut dirancang untuk mencetak tenaga profesional yang mampu mendukung berbagai program pembangunan nasional di sektor agraria dan tata ruang.
“Yang cocok masuk Politeknik Agraria adalah mereka yang berminat pada bidang keagrariaan, pertanahan, penataan ruang, hingga aspek kadaster atau pemetaan bidang tanah. Bidang-bidang tersebut menjadi fokus pembelajaran yang kami siapkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan nasional,” ujar Sri Yanti Achmad di kampus Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (3/6).
Saat ini, Politeknik Agraria STPN menyelenggarakan empat program studi sarjana terapan, yakni Pertanahan, Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah, Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, serta Survei, Pemetaan dan Informasi Pertanahan.
Keempat program tersebut disusun untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi di bidang administrasi pertanahan, hukum pertanahan, pendaftaran tanah, penataan ruang, hingga survei dan pemetaan. Selain itu, para taruna juga dibekali kemampuan pengelolaan data spasial dan informasi pertanahan yang menjadi kebutuhan penting dalam pelayanan pertanahan modern.
Menurut Sri Yanti Achmad, karakteristik Politeknik Agraria STPN berbeda dibandingkan perguruan tinggi lainnya karena memiliki fokus khusus pada bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang dengan pendekatan multidisiplin.
Ia menjelaskan bahwa persoalan pertanahan tidak hanya berkaitan dengan pengukuran dan pemetaan bidang tanah, tetapi juga mencakup aspek hukum, kepastian hak atas tanah, perencanaan wilayah, penataan ruang, hingga ilmu kebumian. Karena itu, kurikulum yang diterapkan dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai persoalan agraria.
Selain penguasaan kompetensi teknis, Politeknik Agraria STPN juga menerapkan sistem pendidikan berasrama yang bertujuan membentuk karakter, integritas, kedisiplinan, dan kemampuan sosial para taruna.
“Yang kami bangun tidak hanya keterampilan atau hard skill, tetapi juga karakter dan integritas. Itu menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di Politeknik Agraria,” kata Sri Yanti Achmad.
Melalui sistem pendidikan tersebut, kampus berharap dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga siap mengemban tanggung jawab dalam penyelenggaraan pelayanan publik di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Politeknik Agraria STPN juga mengajak siswa kelas XII SMA/sederajat yang tengah mencari perguruan tinggi untuk mempertimbangkan pendidikan di kampus kedinasan tersebut sebagai salah satu pilihan karier masa depan.
“Kami berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk berkontribusi dalam bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang melalui pendidikan di Politeknik Agraria STPN,” ujar Sri Yanti Achmad.
Informasi mengenai penerimaan taruna baru, persyaratan pendaftaran, tahapan seleksi, serta jadwal penerimaan dapat diakses melalui situs resmi Politeknik Agraria STPN dan kanal informasi resmi kampus. Dengan fokus pendidikan yang spesifik dan kebutuhan tenaga profesional yang terus meningkat, Politeknik Agraria STPN diharapkan dapat menjadi salah satu wadah strategis dalam menyiapkan SDM unggul untuk mendukung pembangunan sektor agraria dan tata ruang di Indonesia.***