MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

NASIONAL

07 April 2026,    22:08 WIB

Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian


Badarudin

Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian

Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian

Jakarta - Di balik kehidupan prajurit TNI Angkatan Darat, terdapat sosok-sosok perempuan tangguh yang mendampingi dengan setia sekaligus terus bertumbuh dalam peran sosial dan ekonomi. Mereka adalah anggota Persit Kartika Chandra Kirana, organisasi yang tidak hanya menjadi ruang kebersamaan, tetapi juga wadah berkembangnya kreativitas, kemandirian, dan semangat pemberdayaan.

 

Salah satu kisah yang mencerminkan semangat tersebut hadir dari Kalimantan Selatan. Ny. Eka Agustina Pratiwi, S.E., istri dari Kolonel Czi Burhannudin, S.E., M.Si., menapaki jejak budaya yang telah hidup di keluarganya sejak lama. Ia merupakan putri pertama dari pasangan H. Hasan Hairul dan Hj. Evawani Rosita, yang telah menekuni kerajinan kain Sasirangan sejak 1984. Dari lingkungan keluarga itulah kecintaan terhadap Sasirangan tumbuh, lalu berkembang menjadi karya, identitas, dan sumber penghidupan.

 

Ketertarikan Ny. Eka terhadap Sasirangan tidak sekadar lahir karena kedekatan keluarga dengan kerajinan tersebut. Ia juga terpikat oleh keindahan kain khas Banjar itu, terutama karena setiap motif mengandung makna dan nilai budaya. Bagi dirinya, Sasirangan bukan hanya tekstil tradisional, melainkan warisan yang memuat cerita, filosofi, dan kebanggaan daerah.

 

Dalam proses pembuatannya, Sasirangan menuntut ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Setiap helai kain dijahit dengan teknik jelujur untuk membentuk motif, kemudian melalui proses pewarnaan, termasuk dengan bahan alami, yang menghadirkan corak memikat dan khas. Dari proses yang cermat itulah lahir kain-kain bernilai seni tinggi, yang kemudian dikembangkan menjadi beragam produk seperti pakaian pria dan wanita, tas, hingga aksesori. Sasirangan, dengan demikian, tidak hanya hadir sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

 

Semangat berkarya itu mendapat penguatan dari lingkungan organisasi. Dukungan Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana, Ny. Uli Simanjuntak, melalui program Persit Bisa menjadi energi penting bagi tumbuhnya pemberdayaan anggota melalui UMKM dan kerajinan lokal. Di tingkat Koorcab Pusziad PG Mabesad, dukungan juga diberikan oleh Pembina Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Pusziad PG Mabesad Mayor Jenderal TNI Budi Hariswanto, S.Sos., M.A.P., serta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Pusziad PG Mabesad Ny. Prima Budi Hariswanto. Dukungan tersebut menjadi penguat bagi berkembangnya UMKM Sasirangan Kayuh Baimbai yang dikelola Ny. Eka Burhannudin.

 

Kehadiran Sasirangan Kayuh Baimbai dalam ajang Persit Bisa II menjadi bukti bahwa karya tradisional dapat tampil di ruang yang lebih luas, menjangkau lebih banyak orang, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Selatan. Kehadiran booth tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga sarana memperlihatkan bahwa kreativitas anggota Persit dapat bertumbuh menjadi kekuatan ekonomi keluarga tanpa melepaskan akar tradisi.

 

Kisah Ny. Eka menjadi gambaran humanis tentang bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Dari keterampilan yang diwariskan keluarga, lahir kreativitas. Dari kreativitas, tumbuh kemandirian. Dan dari dukungan organisasi, tumbuh keberanian untuk melangkah lebih jauh. Dalam konteks itulah Persit menunjukkan perannya, bukan semata sebagai pendamping, melainkan juga sebagai penggerak perubahan yang memberi nilai tambah bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

 

Pada akhirnya, Sasirangan bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya, sumber inspirasi, sekaligus harapan yang dirajut dengan tangan-tangan telaten. Melalui karya seperti yang dilakukan Ny. Eka Burhannudin, tradisi tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, melainkan terus hidup, berkembang, dan memberi makna bagi masa kini. (Pen Pusziad)