KABAR DAERAH
istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Pelaksanaan Pujawali di Merajan Suci Kedhatuan Agung Alang Sanja, Desa Bebalang, Kabupaten Bangli, berlangsung semarak namun tetap khidmat dan penuh kekhusyukan. Menjelang puncak pujawali yang jatuh pada Buda Pon Wuku Sungsang, Rabu (10/6/2026), rangkaian upacara diawali dengan prosesi Melasti di Pura Tirta Bulakan.
Ritual Melasti diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat dan kelompok pengempon pura, di antaranya para pinandita dan pemangku, semeton dari sejumlah banjar di Bangli, serta berbagai komunitas adat dan warga penyungsung yang datang untuk mengikuti prosesi penyucian.
Prosesi tersebut bertujuan menyucikan pratima dan pralingga Ida Bhatara sebagai bagian dari rangkaian upacara keagamaan menjelang puncak pujawali. Upacara Melasti dipuput oleh dua sulinggih, yakni Ida Ratu Begawan dari Puri Agung Denpasar Bangli dan Ida Begawan dari Griya Taman Sidan, Gianyar, sementara prosesi penyucian pralingga dilaksanakan oleh Pangelingsir Puri Agung Denpasar Bangli, Anak Agung Mangku Gede Wiraguna.
Meskipun harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh menuju lokasi Melasti, para peserta tampak mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan penuh antusias dan khidmat.
Selaku yajamana karya, Ida Ratu Sri Begawan Putra Natha Anom Pemayun Bangli menyampaikan bahwa pelaksanaan karya Nyatur di Kedhatuan Agung Alang Sanja digelar setiap lima tahun sekali sebagai bagian dari tradisi dan pelestarian nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada kesempatan tersebut, beliau juga memberikan wejangan kepada para pemedek yang memadati kawasan Merajan Suci Kedhatuan Agung Alang Sanja. Dalam pesannya, ia menekankan pentingnya persatuan umat Hindu yang berasal dari berbagai trah dan soroh untuk bersama-sama menjalankan dharma dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Puncak pelaksanaan pujawali dipuput oleh Ida Sri Begawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun Kedhatuan Kawista Belatungan, Tabanan, bersama Ida Sri Begawan Dwija Giri dari Griya Saba, Ketewel, Gianyar. Sejumlah kesenian sakral turut dipersembahkan dalam rangkaian upacara, di antaranya Tari Rejang Sari, Tari Rejang Dewa, Tari Pendet, Topeng Sidakarya, serta pertunjukan Wayang Kulit.
Pelaksanaan pujawali yang berlangsung dengan suasana hening, tertib, dan penuh nuansa religius tersebut menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus melestarikan tradisi budaya dan warisan leluhur yang telah dijaga secara turun-temurun.(JB)