FOKUS
Istimewa
Gianyar-Mediaindonesianews.com: Derasnya arus modernisasi serta digitalisasi, I Ketut Pradnya, seorang pemahat, dosen Sastra Bali UNUD Denpasar, dan Bendesa Adat Selat, Susut, Bangli, berhasil mewujudkan impiannya membangun Museum Wiswakarma. Museum dengan arsitektur tradisional Bali yang berlokasi di Desa Batubulan, Sukawati, Gianyar tersebut bukan sekadar tempat pameran, tetapi juga pusat edukasi dan pelestarian budaya yang hidup.
Museum Wiswakarma yang diresmikan pada 18 Juni 2023, terletak diatas lahan seluas 4 hektar tersebut menampilkan berbagai bentuk dan tampilan arsitektur tradisional Bali dengan koleksi yang berkualitas tinggi, meliputi pintu klasik, relief, patung, gamelan dan lainnya dengan koleksi unggulannya Gelung Kori Agung Pura Besakih yang telah direnovasi oleh Pradnya bersama saudaranya Wayan Contok seorang pemahat legendaris.
Dalam keterangannya Pradnya mengaku bahwa dirinya sendiri yang membangun museum, hal tersebut merupakan upaya untuk "membayar hutang" kepada tanah kelahiran.
"Museum ini dibangun di bawah naungan Yayasan Pulo Cendani dan PT Bali Sraya Style, perusahaan yang memiliki pengalaman dalam mengerjakan proyek konstruksi berkelas nasional dengan Konsep Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, dan Taru Pramana yang menjadi roh museum ini." Katanya.
Menurutnya Wiswakarma tidak hanya menarik bagi pengunjung umum, namun juga telah digunakan sebagai tempat belajar oleh Universitas Merdeka Belajar.
"Museum ini merupakan tempat edukasi non-formal dan pelatihan keterampilan tradisional Bali, sekaligus tempat pagelaran seni yang mencakup berbagai aspek kebudayaan Bali." Pungkasnya
Sementara itu Ketua HIMUSBA, AA Gede Rai (Arma), memuji keberanian dan kegigihan Pradnya dalam membangun museum ini, uniknya bangunan tersebut memfokuskan pada arsitektur tradisional Bali.
Selain itu Gubernur Bali, I Wayan Koster, juga mengapresiasi upaya terebut sebagai langkah positif dalam melestarikan tradisi bagi generasi muda. (jrobudi)