BREAKING NEWS
Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM Koperasi dan Wirausaha Asprindo, Risma Sitorus memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke kurikulum sekolah. (foto: ist)
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) terus memperkuat upaya mencetak generasi muda yang mandiri melalui pendidikan kewirausahaan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu langkah konkret dilakukan dengan mengintegrasikan pembelajaran kewirausahaan berbasis keterampilan kerajinan tangan dan pengolahan produk lokal ke dalam kegiatan pendidikan siswa.
Wakil Ketua Departemen Pengembangan UMKM, Koperasi dan Wirausaha Asprindo, Risma Sitorus, mengatakan program tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap masih tingginya lulusan SMK yang kesulitan memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Risma, yang baru memasuki masa purnatugas sebagai Kepala SMK Citra Nusantara, pendidikan kewirausahaan harus menjadi solusi agar lulusan tidak hanya bergantung pada peluang kerja formal, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri.
"Kami memberikan pengajaran dan pendampingan kepada siswa selama tiga tahun masa pendidikan. Harapannya, setelah lulus mereka memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal usaha, bahkan mampu membuka kesempatan kerja bagi orang lain," ujar Risma, Senin (3/8).
Dalam proses pembelajaran, siswa diajarkan mengolah berbagai bahan baku yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, rotan, hingga purun. Pendekatan tersebut dinilai mampu mendorong kreativitas sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain membekali keterampilan teknis, Asprindo juga menanamkan pola pikir kewirausahaan kepada para siswa. Risma mengakui tantangan terbesar bukan hanya mengajarkan cara membuat produk, tetapi membangun kepercayaan diri generasi muda bahwa usaha mikro memiliki prospek yang menjanjikan.
"Kami terus memupuk keyakinan anak-anak bahwa UMKM memiliki masa depan. Kami juga berusaha mencari jenis usaha yang sesuai dengan minat generasi muda agar mereka tertarik menjadi wirausaha," katanya.
Program tersebut tidak berhenti pada proses produksi. Asprindo bersama sekolah juga memberikan pendampingan dalam aspek pemasaran, mulai dari pengembangan desain produk, kemasan, hingga strategi promosi agar hasil karya siswa memiliki daya saing di pasar.
Produk yang dihasilkan pun beragam, tidak hanya kerajinan tangan, tetapi juga produk kuliner berbahan baku lokal yang dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.
Risma menjelaskan, sejak awal pengembangan program, Asprindo memberikan dukungan melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, termasuk pelatihan pengolahan rumput laut dan mangrove menjadi produk kuliner bernilai tambah.
Ketua Umum Asprindo, Jose (sesuai penyebutan dalam keterangan), juga disebut beberapa kali mengunjungi galeri hasil karya siswa serta mendorong promosi produk melalui berbagai pameran, termasuk membuka jejaring internasional dengan mempertemukan pelaku UMKM binaan dengan perwakilan Asprindo di Belanda.
Sebagai upaya memperkuat pemasaran, pada 2011 dibentuk Koperasi Citra Nusantara Maju yang kini memiliki 198 anggota. Koperasi tersebut menjadi wadah bagi para pelaku UMKM binaan untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas akses pasar.
Risma berharap masyarakat semakin mencintai dan menggunakan produk-produk UMKM dalam negeri sebagai bentuk dukungan terhadap karya anak bangsa.
"Kalau kita tidak mencintai produk kita sendiri, siapa lagi. Mari mulai dari diri sendiri dengan memilih produk hasil karya anak bangsa. Kami juga berharap Asprindo terus berkembang dan mampu mendukung UMKM agar naik kelas serta mampu bersaing di pasar global," tutupnya.***