ADVERTORIAL
Istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Sebuah inovasi spiritual dan budaya hadir di Kabupaten Bangli dengan berdirinya Krematorium Sagraha Mandrakantha Santhi di Desa Bebalang. Fasilitas ini menjadi alternatif modern bagi umat Hindu yang ingin melaksanakan upacara ngaben secara layak, namun terkendala oleh faktor adat, biaya, atau lokasi banjar.
Ketua Yayasan Krematorium, I Nyoman Karsana, SE, menegaskan bahwa pendirian krematorium ini bukan untuk menggantikan tradisi Bali, melainkan memberikan opsi pelaksanaan ngaben yang tetap sesuai nilai-nilai adat.
“Kami hadir bukan untuk mengubah tradisi, tapi membantu umat Hindu yang mengalami kesulitan di lingkungan mereka,” ujarnya, Kamis (24/7).
Sebagai tempat suci, krematorium ini telah dilengkapi Pelinggih Ida Betara Dalem dan Dalem Praja Pati, serta telah melalui upacara pemelaspasan secara lengkap. Proses ngaben pun fleksibel, memungkinkan keluarga memilih sulinggih sendiri dan menyesuaikan tata cara upacara sesuai dengan awig-awig yang berlaku.
Menurut I Nyoman Karsana ada tiga paket layanan ditawarkan, diantaranya, Swasta Geni senilai Rp16 juta, Pranawa Rp20 juta, dan Utama Ngewangun Rp27 juta.
Paket tersebut mencakup berbagai kebutuhan upacara, dengan pilihan pelaksanaan penuh di krematorium atau kombinasi dengan rumah duka. Layanan tambahan seperti Atma Wedana Ngelanus juga tersedia secara terpisah.
“Dalam era modern ini, kita harus membuka ruang adaptasi. Tradisi tidak harus ditinggalkan, tapi bisa diselaraskan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya
Ia juga mendorong agar lembaga adat melakukan penyesuaian dalam awig-awig dan perarem, agar masyarakat tidak lagi terbebani secara sosial maupun spiritual.
Krematorium Bebalang menjadi bukti bahwa inovasi dan tradisi bisa berjalan berdampingan demi menjaga keberlanjutan nilai-nilai kearifan lokal Bali di tengah dinamika kehidupan modern (JroBudi)